Ad Code

Lahan Berkurang, Profesi Petani kian Hilang, Adakah Makanan Dimasa Depan?



Indonesia sedang menghadapi masalah serius, jumlah petani semakin berkurang, dan jumlah lahan yang tersedia untuk pertanian semakin menyusut. Ini menjadi perhatian utama, karena pertanian merupakan sumber utama makanan bagi sebuah negara.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah petani di Indonesia mengalami penurunan sebesar 2,4 juta dalam 10 tahun terakhir. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain usia penduduk petani yang menua, kurangnya minat bertani di kalangan generasi muda, dan rendahnya pendapatan petani.

Menurut ASEAN Statistics Division, proporsi tenaga kerja pertanian di Indonesia berada diurutan keenam se-Asia Tenggara, berada dibawah Kamboja yang mempunyai proporsi tenaga kerja pertanian sebesar 32,1% dan Indonesia sebesar 29,8% pada 2020. Sementara itu, Myanmar menjadi negara dengan proporsi tenaga kerja pertanian tertinggi se-Asia Tenggara, yaitu sebesar 48,9%

Pada saat yang sama, jumlah lahan yang tersedia untuk pertanian menyusut karena alih fungsi lahan (alih fungsi lahan). Ini adalah proses konversi lahan pertanian untuk penggunaan lain, seperti untuk perumahan, industri, dan infrastruktur.

Perpaduan antara jumlah petani yang semakin berkurang dan luas lahan yang semakin menyusut merupakan ancaman besar bagi ketahanan pangan Indonesia. Jika tren ini terus berlanjut, kemungkinan Indonesia tidak akan mampu menghasilkan pangan yang cukup untuk memberi makan penduduknya di masa mendatang.

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah ini. Salah satunya adalah dengan memberikan insentif bagi generasi muda untuk menjadi petani. Hal ini dapat mencakup memberi mereka bantuan keuangan, akses ke pendidikan dan pelatihan, dan akses ke pasar. 

Lainnya adalah melindungi lahan pertanian dari alih fungsi lahan. Hal ini dapat dilakukan dengan zonasi lahan untuk penggunaan pertanian dan dengan memberikan bantuan keuangan kepada petani yang bersedia melestarikan lahan mereka.

Penting untuk mengatasi masalah ini sekarang, sebelum terlambat. Jika kita tidak bertindak, kita mungkin menghadapi krisis pangan yang serius di masa depan.


Berikut adalah beberapa pemikiran tambahan tentang masalah ini:

  • Penurunan jumlah petani merupakan tren global. Di banyak negara, kaum muda tidak lagi tertarik bertani, karena dipandang sebagai pekerjaan bergaji rendah dan sulit.
  • Menyusutnya jumlah lahan yang tersedia untuk pertanian juga menjadi tren global. Hal ini disebabkan sejumlah faktor, termasuk urbanisasi, perubahan iklim, dan degradasi lingkungan.
  • Kombinasi penurunan jumlah petani dan penyusutan luas lahan merupakan ancaman besar bagi ketahanan pangan global. Jika tren ini berlanjut, ada kemungkinan dunia tidak akan mampu menghasilkan makanan yang cukup untuk memberi makan penduduknya di masa mendatang.


Penting untuk mengambil tindakan untuk mengatasi masalah ini. Beberapa solusi yang mungkin termasuk:

1. Berinvestasi dalam penelitian dan pengembangan pertanian untuk mengembangkan teknologi baru yang dapat membantu petani menghasilkan lebih banyak makanan dengan lahan yang lebih sedikit.

2. Memberikan bantuan keuangan kepada petani untuk membantu mereka mengadopsi teknologi baru dan meningkatkan produktivitas mereka.

3. Mempromosikan praktik pertanian berkelanjutan yang dapat membantu melindungi lingkungan dan melestarikan lahan.

Mengatasi penurunan pertanian di Indonesia merupakan tantangan yang kompleks. Namun, itu merupakan tantangan yang harus dihadapi Indonesia untuk menjamin ketahanan pangan bagi rakyatnya di masa depan.

Dengan mengambil tindakan sekarang, kita dapat membantu memastikan bahwa dunia akan dapat menghidupi dirinya sendiri di masa depan.

Posting Komentar

0 Komentar